BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang kaya akan
karya sastra lama. Karya sastra ini meliputi beragam jenis dan bentuk, baik
syair maupun prosa, contohnya hikayat, beragam pantun, dongeng, legenda, dan
mitos. Karya-karya itu telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Berikut
pernyataan yang menyatakan bahwa Indonesia kaya akan karya sastra,
Kita sudah mempunyai pengalaman bersastra yang lama,
paling tidak selama seribu tahun kita sudah memiliki sastra tulis. Jika
bertolak dari kehidupan sastra lisan, pengalaman kita lebih panjang lagi. Jadi,
kita sudah bersastra mulai pada milenium pertama, dan terus berlangsung pada
milenium kedua. Dalam sepanjang pengalaman itu kita sudah memiliki hasil sastra
yang cukup banyak. Kita memiliki khasanah sastra klasik yang tersimpan dalam
berbagai bahasa daerah di seluruh Indonesia
(Rusyana, 1999:2).
Kondisi masyarakat yang semakin
tidak peduli terhadap karya sastra lama ini terutama pada remaja, yang lebih
memperiotaskan kesusastraan modern dibandingkan dengan kesusastraan lama. hal ini
dikemukakan karena sebagaian remaja lebih menutup diri mengenai hal-hal yang
berbau kesusastraan lama. seperti yang kita tahu bahwa banyak sekali remaja
pada zaman sekarang yang menjadikan karya sastra lama hanya sebagai simbol
belaka dan tidak pernah memaknai keindahan karya sastra lama yang sebenarnya.
Penguasaan terhadap karya sastra lama memberikan kemudahan tentunya bagi
para remaja untuk mengakses berbagai informasi, pengetahuan dan hiburan secara
luas baik melalui buku-buku bacaan, media massa, elektronik maupun jaringan
informasi di dunia maya ataupun internet. Keindahan akan karya sastra lama ini dapat kita rasakan melalui berbagai karya
sastra yang diwariskan. Menyadari fungsi dan arti penting karya sastra lama ini
sudah sepatutnya kita mendalaminya khususnya bagi para remaja agar karya sastra
lama yang telah diwariskan tidak punah dan tidak luntur begitu saja.
Perkembangan kesusastraan lama
Indonesia banyak mendapat pengaruh dari luar. Berdasarkan pengaruh tersebut
kesusastraan lama Indonesia dibedakan menjadi kesusastraan melayu klasik
(tradisional), kesusastraan pengaruh hindu, dan kesusastraan pengaruh islam.
Karena pengaruh tersebut, akibatnya para remaja jarang sekali mengaplikasikan
karya sastra lama pada kehidupan mereka, dan mereka lebih dominan menggunakan
karya sastra modern dalam keseharian
mereka.
Selain itu jika dilihat dari
berbagai aspek, maka frekuensi remaja dalam meminati kesusastraan lama sudah
semakin minim. Terbukti dengan segala sesuatu yang bersifat kesusastraan lama misalnya
buku hikayat ataupun gurindam telah
dimuseumkan atau hampir jarang untuk ditemukan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah itu karya
satra lama?
2. Apa sajakah yang
tergolong dalam karya sastra lama?
3. Apakah penyebab karya
sastra lama kurang diminati remaja
4. Bagaimanakah kinerja
untuk meningkatkan semangat remaja sekarang dan
masa depan demi pelestarian karya sastra lama?
1.3 Tujuan
1.
Untuk mengetahui apakah yang dimaksud dengan karya
sastra lama
2. Untuk mengetahui
pembagian karya sastra lama serta defenisi karya sastra yang selama ini
terhindar dari dari dunia remaja
3. Untuk mengetahui
penyebab berkurangnya minat remaja terhadap kesusastraan lama
4. Mengetahui hal-hal
istimewa dalam karya sastra lama dibandingkan karya sastra modern
5. Membangkitkan
semangat penerus bangsa agar dapat menjaga kelestarian karya sastra lama.
1.4 Manfaat
1.
Membantu para remaja untuk mengetahui apa itu karya sasatra lama.
2.
Remaja-remaja Indonesia
dapat mengetahui pembagian karya sastra lama yang selama ini tidak diketahuinya
3.
Remaja indonesia dapat lebih emmeperioritaskan karya sastra lama
daripada karya sasrta modern yang selama ini langka dilapisan remaja.
4. Agar dapat mengembangkan dan melestarikan
aset negara khususnya karya sastra lama.
BAB II
I S I
2.1 Pengertian Sastra
Lama
Kesusastraan
lama adalah karya sastra yang lahir dalam masyarakat lama, yaitu suatu masyarakat
yang masih memegang adat istiadat yang berlaku di daerahnya. Karya sastra lama
biasanya bersifat moral, pendidikan, nasihat, adat istiadat, serta
ajaran-ajaran agama.
2.2 Sejarah Sastra Lama
Sejarah dalam sastra lama ini terbagi atas
sejarah balai pustaka, sejarah angkatan 45 dan sejarah pujangga
1.
Sejarah Balai Pustaka (Angkatan Dua Puluhan)
Disebut angkatan dua
puluhan karena angkatan inilahir pada tahun 1920-an dan disebut angkatan balai
pustaka karena penerbit yang paling banyak menerbitkan adalah Balai Pustaka.
Balai pustaka didirikan tahun 1917 oleh Dr. Rinkes. Penerbit ini sangat berjasa
bagi dunia sastra Indonesia karena dengan adanya penerbit ini lahir berbagai
macam karya sastra terkenal.
Balai pustaka tidak
hanya berperan pada masa tahun 1920-an saja melainkan sampai masa-masa
berikutnya bahkan sampai sekarang. Karya yang paling terkenal pada masa ini
adalah Siti Nurbaya karangan Marah Rusli. Roman ini menceritakan tentang
perjodohan yang masih banyak dilakukan pada masa itu.
Beberapa karya sastra
angkatan 1920-an adalah Azab dan Sengsara (roman, tahun 1920 oleh Merari
Siregar), Muda Teruna (roman, tahun 1922 oleh Moh. Kasim), Tak Putus Dirundung
Malang (roman, tahun 1929 oleh S.T. Alisyahbana)
2.
Sejarah Pujangga Baru
Pujangga baru pada awalnya adalah nama sebuah majalah bukan nama
angkatan. Majalah pujangga baru ini dikelola oleh Arjmin Pane, Amir Hamzah, dan
Sutan Takdir Alisyahbana. Majalah ini terbit setiap dua bulan sekali. Malajah
lain yang terbit seiring dengan pujangga baru adalah Panji Pustaka dan pedoman
rakyat. Tetapi pada perkembangannya akhirnya pujangga baru lebih pesat dan
terkenal karena di dalamnya memberi ruang lebih luas untuk mengembangkan
sastra. Sastrawan di seluruh pelosok banyak diberi tempat untuk mengenalkan
karya mereka.
Pedoman rakyat lebih
banyak menangkat masalah politik, social dan budaya (umum) sedangkan panji
pustaka dianggap memasung kreativitas sastrawan.
Pujangga baru terbit
pertama kali pada bulan juli tahun 1933. artikel yang mengangkat nama penerbit
ini adalah “menuju seni baru” karya alisahbana. “Kesusasteraan baru” karya
armijn pane ini memperlihatkan keinginan sastrawan mengangkat sastra Indonesia
agar terlepas dari sastra tradisional.
3.
Sejarah Angakatan 45
Fase pertama ditandai dengan munculnya tulisan jassin
yang secara jelas hendak mengangkat chairil anwar sebagai tokoh sentral
angkatan 45.
Fase kedua ditandai dengan pembelaan jassin terhadap
penamaan angkatan 45 berikut sikap yang melandasi angkatan ini.
Fase ketiga ditandai dengan pembelaan jasssin terhadap
sikap dan semangat angkatan 45 dengan gagasan humanisme universalnya. Polemic
nama angkatan dimulai ketika jassin menulis artikel “Kesusasteraan di masa
Jepang” di dalamnya jassin mulai menyinggung nama chairil anwar. Sosok penyair
yang belum genap 20 tahun pada masa itu, berani menulis dan mencipta karya
universal. Chairil dikatakan sebagai sosok yang mendobrak dan pembaharu sastra
Indonesia.
Kemudian rosihan anwar melansir pertama kali nama angkatan 45. yang
sebnarnya adalah usul chairil anwar. Mengapa tidak 42, 43, atau 44? Chairil
mengatakan 45 lebih tepat karena hubungannya dengan sejarah “momentopname”.
2.3 Pembagian Sastra Lama
Dilihat
dari sejarahnya, sastra terdiri dari 3 bagian, yaitu :
·
Kesusastraan
Lama, kesusastraan yang hidup dan berkembang dalam
masyarakat lama dalam sejarah bangsa Indonesia.
masyarakat lama dalam sejarah bangsa Indonesia.
Kesusastraan Lama Indonesia dibagi menjadi :
Ø Kesusastraan zaman purba,
Ø Kesusastraan zaman Hindu Budha
Ø Kesusastraan zaman Islam
Ø Kesusastraan zaman Arab – Melayu.
Sastra Indonesia terbagi dua menurut zaman pembuatan
karya sastra :
·
Karya
Sastra Lama
Karya sastra lama adalah Karya sastra yang lahir dalam masyarakat lama, yaitu suatu masyarakat
yang masih memegang adat istiadat yang berlaku di daerahnya. Karya sastra lama
biasanya bersifat moral, pendidikan, nasihat, adat istiadat, serta
ajaran-ajaran agama. Sastra lama Indonesia memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
Ø
terikat oleh kebiasaan dan adat masyarakat
Ø
bersifat istana sentris
Ø
bentuknya baku
Ø
biasanya nama pengarangnya tidak disertakan (anonim)
Adapun bentuk dari
sastra Lama adalah Pantun, Gurindam, Syair, Hikayat, Dongeng dan Tambo.
·
Karya Sastra Baru
Karya sastra baru Indonesia sangat berbeda
dengan sastra lama. Karya sastra ini sudah tidak dipengaruhi adat kebiasaan
masyarakat sekitarnya. Malahan karya sastra baru Indonesia cenderung
dipengaruhi oleh sastra dari Barat atau Eropa.
Ciri-ciri sastra baru Indonesia adalah:
Ø
Ceritanya berkisar kehidupan masyarakat
Ø
Bersifat dinamis (mengikuti perkembangan zaman)
Ø
Mencerminkan kepribadian pengarangnya
Ø
Selalu diberi nama sang pembuat karya sastra
Bentuk
sastra baru Indonesia antara lain adalah Roman, Novel, Cerpen, dan Puisi
Modern.
Suatu hasil karya baru dapat dikatakan memiliki nilai
saastra bila di dalamnya terdapat kesepadanan antara bentuk dan isinya. Bentuk
bahasanya baik dan indah, dan susunannya beserta isinya dapat menimbulkan
perasaan haru dan kagum di hati pembacanya.
Bentuk dan isi sastra harus saling mengisi, yaitu
dapat menimbulkan kesan yang mendalam di hati para pembacanya sebagai perwujudan
nilai-nilai karya seni. Apabila isi tulisan cukup baik tetapi cara pengungkapan
bahasanya buruk, karya tersebut tidak dapat disebut sebagai cipta sastra,
begitu juga sebaliknya.
Sastra memiliki
beberapa jenis:
·
Sastra daerah, yaitu karya sastra yang berkembang di
daerah dan diungkapkan dengan menggunakan bahasa daerah.
·
Sastra dunia, yaitu karya sastra milik dunia yang
bersifat universal.
·
Sastra kontemporer, yaitu sastra masa kini yang telah
meninggalkan ciri-ciri khas pada masa sebelumnya.
·
Sastra modern, yaitu sastra yang telah terpengaruh
oleh sastra asing(sastra barat).
Karya Saatra secara
umum terbagi atas :
1. Puisi
2. Prosa
ü
Puisi
Perngertian puisi di atas mencakup arti cukup luas
karena menafsirkan puisi sebagai hasil penjaringan penglaman yang dapat atau
dialami oleh seseorang. Dan menyusunnya secara sistematis sebagai makna satu
dan yang lainnya.
Dari pengertian di atas juga diartikan bahwa puisi
merupakan karya seni yang erat hubungannya dengan bahasa dan jiwa. Tersusun
dengan kata-kata yang baik sebagai hasil curahan lewat media tulis yang
bersifat imajinatif oleh pengarangnya untuk menyoroti aspek kehidupan yang
dialaminya.
Atas dasar itulah penulis mengemukakan bahwa puisi
pada hakikatnya adalah curahan perasaan si penciptanya sehingga keberadaan
suatu puisi tidak terlepas dari keberadaan pikiran, perasaan, dan lingkungan si
penciptannya.
Jika seseorang menyelami sebuah puisi, berarti ia
berusaha mencari siapa dan bagaimana keberadaan penciptanya atau penyairnya. Oleh
sebab itu, mendeklamasikan puisi tidak lain dari mengepresikan makna sesuai
dengan cita rasa penyairnya.
Sebenarnya ada perbedaan yang mendasar mengenai puisi
dan prosa. Sebagaimana telah dijelaskan seorang ahli dalam dunia sastra
:“perbedaan pokok antara prosa dan puisi. Pertama, kesatuan prosa yang pokok
adalah kesatuan sintaksis, sedangkan kesatuan puisi adalah kesatuan akustis.
Kedua, puisi terdiri dari kesatuan-kesatuan yang disebut baris sajak, sedangkan
dalam prosa kesatuannya disebut paragraf. Ketiga, di dalam baris sajak ada
periodisitas dari mula sampai akhir.” (Slametmulyana ,1956:112)
ü
prosa
Sedangkan prosa
terbagi atas :
1. Prosa Lama
Prosa lama adalah
karya sastra daerah yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan
barat. Dalam hubungannya dengan kesusastraan Indonesia maka objek pembicaraan
sastra lama ialah sastra prosa daerah Melayu yang mendapat pengaruh barat. Hal
ini disebabkan oleh hubungannya yang sangat erat dengan sastra Indonesia.
Karya sastra prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan.
Disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Dikenal bentuk tulisan
setelah agama dan kebudayaan Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Melayu
mengenal tulisan. Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenal dan sejak itu
pulalah babak-babak sastra pertama dalam rentetan sejarah sastra Indonesia
mulai ada.
Bentuk-bentuk sastra
prosa lama adalah:
a.
Mite adalah dongeng yang banyak mengandung unsur-unsur ajaib dan ditokohi oleh
dewa, roh halus, atau peri. Contoh Nyi Roro Kidul
b.
Legenda adalah dongeng yang dihubungkan dengan terjadinya suatu tempat. Contoh:
Sangkuriang, Si Malin Kundang
c.
Fabel adalah dongeng yang pelaku utamanya adalah binatang. Contoh: Kancil
d.
Hikayat adalah suatu bentuk prosa lama yang ceritanya berisi kehidupan
raja-raja dan sekitarnya serta kehidupan para dewa. Contoh: Hikayat Hang Tuah.
e.
Dongeng adalah suatu cerita yang bersifat khayal. Contoh: Cerita Pak Belalang.
f.
Cerita berbingkai adalah cerita yang di dalamnya terdapat cerita lagi yang
dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh: Seribu Satu Malam
adapun ciri-ciri dari prosa lama adalah sebagai berikut :
1. Cenderung
bersifat stastis, sesuai dengan keadaan masyarakat lama yang mengalami
perubahan secara lambat.
2. Istanasentris
( ceritanya sekitar kerajaan, istana, keluarga raja, bersifat feodal).
3. Hampir seluruhnya berbentuk hikayat, tambo
atau dongeng. Pembaca dibawa ke dalam khayal dan fantasi.
4.
Dipengaruhi oleh kesusastraan Hindu dan Arab.
5. Ceritanya
sering bersifat anonim (tanpa nama)
6. Milik
bersama
2. Prosa Baru
Prosa baru adalah karangan prosa yang timbul setelah
mendapat pengaruh sastra atau budaya Barat. Prosa baru timbul sejak pengaruh
Pers masuk ke Indonesia yakni sekitar permulaan abad ke-20. Contoh: Nyai Dasima
karangan G. Fransis, Siti mariah karangan H. Moekti.
Berdasarkan isi atau
sifatnya prosa baru dapat digolongkan menjadi:
1. Roman, adalah
bentuk prosa baru yang mengisahkan kehidupan pelaku utamanya dengan segala suka
dukanya. Dalam roman, pelaku utamanya sering diceritakan mulai dari masa
kanak-kanak sampai dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Roman mengungkap
adat atau aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail dan menyeluruh,
alur bercabang-cabang, banyak digresi (pelanturan). Roman terbentuk dari
pengembangan atas seluruh segi kehidupan pelaku dalam cerita tersebut.
Berdasarkan kandungan isinya, roman dibedakan atas beberapa macam, antara lain
sebagai berikut:
Roman bertendens,
yang di dalamnya terselip maksud tertentu, atau yang mengandung pandangan hidup
yang dapat dipetik oleh pembaca untuk kebaikan. Contoh: Layar Terkembang oleh
Sutan Takdir Alisyahbana, Salah Asuhan oleh Abdul Muis, Darah Muda oleh
Adinegoro.
Roman sosial,
memberikan gambaran tentang keadaan masyarakat. Biasanya yang dilukiskan
mengenai keburukan-keburukan masyarakat yang bersangkutan. Contoh: Sengsara
Membawa Nikmat oleh Tulis St. Sati, Neraka Dunia oleh Adinegoro.
Roman sejarah, yaitu
roman yang isinya dijalin berdasarkan fakta historis, peristiwa-peristiwa
sejarah, atau kehidupan seorang tokoh dalam sejarah. Contoh: Hulubalang Raja
oleh Nur St. Iskandar, Tambera oleh Utuy Tatang Sontani, Surapati oleh Abdul
Muis.
Roman psikologis,
yaitu roman yang lebih menekankan gambaran kejiwaan yang mendasari segala
tindak dan perilaku tokoh utamanya. Contoh: Atheis oleh Achdiat Kartamiharja,
Katak Hendak Menjadi Lembu oleh Nur St. Iskandar, Belenggu oleh Armijn Pane.
Roman detektif, yang
isinya berkaitan dengan kriminalitas. Dalam roman ini yang sering menjadi
pelaku utamanya seorang agen polisi yang tugasnya membongkar berbagai kasus
kejahatan. Contoh: Mencari Pencuri Anak Perawan oleh Suman HS, Percobaan Seria
oleh Suman HS, Kasih Tak Terlerai oleh Suman HS.
2. Novel, berasal
dari Italia yaitu novella ‘berita’. Novel adalah bentuk prosa baru yang
melukiskan sebagian kehidupan pelaku utamanya yang terpenting, paling menarik,
dan yang mengandung konflik. Konflik atau pergulatan jiwa tersebut mengakibatkan
perobahan nasib pelaku. Lika roman condong pada idealisme, novel pada realisme.
Biasanya novel lebih pendek daripada roman dan lebih panjang dari cerpen.
Contoh: Ave Maria oleh Idrus, Keluarga Gerilya oleh Pramoedya Ananta Toer,
Perburuan oleh Pramoedya Ananta Toer, Ziarah oleh Iwan Simatupang, Surabaya
oleh Idrus.
3. Cerpen, adalah
bentuk prosa baru yang menceritakam sebagian kecil dari kehidupan pelakunya
yang terpenting dan paling menarik. Di dalam cerpen boleh ada konflik atau
pertikaian, akan telapi hat itu tidak menyebabkan perubahan nasib pelakunya.
Contoh: Radio Masyarakat oleh Rosihan Anwar, Bola Lampu oleh Asrul Sani, Teman
Duduk oleh Moh. Kosim, Wajah yang Bembah oleh Trisno Sumarjo, Robohnya Surau
Kami oleh A.A. Navis.
4. Riwayat
(biografi), adalah suatu karangan prosa yang berisi pengalaman-pengalaman hidup
pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa juga pengalaman hidup orang lain
sejak kecil hingga dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Contoh: Soeharto
Anak Desa, Prof. Dr. B.I Habibie, Ki Hajar Dewantara.
5. Kritik, adalah
karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk suatu hasil karya dengan memberi
alasan-alasan tentang isi dan bentuk dengan kriteria tertentu yang sifatnya
objektif dan menghakimi.
6. Resensi, adalah
pembicaraan / pertimbangan / ulasan suatu karya (buku, film, drama, dll.).
Isinya bersifat memaparkan agar pembaca mengetahui karya tersebut dari ebrbagai
aspek seperti tema, alur, perwatakan, dialog, dll, sering juga disertai dengan
penilaian dan saran tentang perlu tidaknya karya tersebut dibaca atau
dinikmati.
7. Esai, adalah
ulasan / kupasan suatu masalah secara sepintas lalu berdasarkan pandangan
pribadi penulisnya. Isinya bisa berupa hikmah hidup, tanggapan, renungan,
ataupun komentar tentang budaya, seni, fenomena sosial, politik, pementasan
drama, film, dll. menurut selera pribadi penulis sehingga bersifat sangat
subjektif atau sangat pribadi.
Adapun ciri-ciri dari
baru adalah sebagai berikut :
1. Prosa baru
bersifat dinamis (senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat)
2. Masyarakatnya sentris ( cerita mengambil
bahan dari kehidupan masyarakat sehari-hari)
3. Bentuknya roman,
cerpen, novel, kisah, drama. Berjejak di dunia yang nyata, berdasarkan
kebenaran dan kenyataan
4. Terutama dipengaruhi oleh kesusastraan Barat
5. Dipengaruhi siapa pengarangnya karena
dinyatakan dengan jelas
6. Tertulis
2.3.1
Hikayat
Hikayat artinya cerita atau riwayat, Secara lengkap, pengertian hikayat
adalah sejenis prosa sastra melayu lama yang ceritanya berkisar pada sikap
kepahlawanan tokoh-tokoh istana. Sebagai karya sastra lama, hikayat memiliki
ciri-ciri:
a. Ceritanya berkisar
pada sikap kepahlawanan tokoh-tokoh istana (istana sentris).
b. Kisahnya bercampur
dengan dunia khayal yang dalam banyak hal dilebih-lebihkan.
c. Pada umumnya
dihubungkan dengan peristiwa sejarah tertentu.
karya sastra lama
berbentuk hikayat misalnya Hikayat Si Miskin, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Indra
Bangsawan, Hikayat Sang Boma, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Raja Budiman,dan
lain-lain. Salahsatu contoh hikayat adalah hikayat Raja kerang.
Mutiara dan Sunardjo (1982:7) menyatakan wujud Hikayat Raja Kerang :” Untuk
kalimat “Alkisah maka tersebut perkataan” tulisannya dihiasi dengan gambar daun
berwarna merah. Untuk bentuk-bentuk pantun, kalimatnya ditulis dengan tinta
merah, begitu pula untuk kata-kata sahdan, hata, adapun, bermula, tersebutlah,
sebermula maka diceritakan, semuanya ditulis dengan tinta merah.”
Hikayat termasuk karya sastra lama
yang berkembang dalam masyarakat secara turun temurun. Sebuah cerita hikayat
biasanya berhubungan dengan kehidupan istana, kesaktian senjata, dan kehebatan tokoh ksatria.
Hikayat banyak tersebar di masyarakat.
Hikayat kebanyakan ditemukan dalam media tulis, seperti kertas, daun, bambu, dan kulit binatang yang digunakan pada zaman dahulu.
2.3.2 Syair
Syair adalah puisi atau karangan dalam
bentuk terikat yang mementingkan irama sajak. Syair berasal dari Arab.
Ciri- ciri syair antara lain:Biasanya
terdiri dari 4 baris, berirama aaaa, keempat baris tersebut mengandung arti
atau maksud penyair (pada pantun, 2 baris terakhir yang mengandung maksud).
Sebagai salah satu contoh syair berirama a-a-a-a yakni
seperti terdapat pada Syair Si Pahit Lidah (Grozali,1978) bait ke-287:
Tersebut kisah hari suatu
Hari pun senja tibalah waktu
Buah dikirim pengawal itu
Untuk santapan baginda ratu
Pengarang terpaksa
membalikan urutan “hari” dan “suatu” karena tunduk pada pola rima syair
a-a-a-a
2.3.2
Gurindam
Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua bait, tiap bait
terdiri dari 2 baris kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu
kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawaban nya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris
pertama tadi.
Berdarkan betuk atau isi gurindam ciri-cirinya sebagai
berikut :
a. Tiap tiap suku teerdiri atas dua baris.
b. Banyak setiap suku kata pada tiap-tiap baris tidak
tetap, (biasanya 10-12 suku kata).
c. Sajaknya a-a. Gurindam
yang baik bersajak penuh, tetapi ada juga yang bersajak paruh.
d. Baris kedua adalah akibat atau balasan yang
tersebut dalam baris pertama.
e. Gurindam berisi nasihat.
Contoh
:
a.
Barang
siapa tidak sembahyang
Ibarat rumah tidak bertiang
Dengan bapak jangan durhaka
Supaya ayah tidak murka
b. Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat
Cahari oleh kamu akan abadi
Yang ada baik sedikit budi
Salah satu Kumpulan gurindam yang
dikarang oleh Raja Ali Haji[1] dari Kepulauan
Riau. Dinamakan Gurindam
Dua Belas oleh karena
berisi 12 pasal, antara lain tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak
terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti dan hidup
bermasyarakat.merupakan gurindam yang terkenal yang berisikan nasehat-nasehat.
2.3.3
Pantun
Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam
bahasa-bahasa Nusantara. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan,
dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan, dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai
umpasa (baca: uppasa).
Ciri-ciri pantun antara lain:
1.
Pantun terdiri atas empat larik dalam satu baris
3.
1
baris terdiri dari 4-5 kata, 8-12 suku kata
4.
Bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap
kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya),
dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud
selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang
merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Sutan
Takdir Alisjahbana mengatakan bahwa fungsi sampiran terutama menyiapkan rima
dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun. Ini dapat dipahami
karena pantun merupakan sastra lisan.
R.O.
Winsted (2009:138) menyatakan bahwa pantun
bukanlah sekedar gubahan kata-kata yang mempunyai rima dan irama, tetapi
merupakan rangkaian kata yang indah untuk menggambarkan kehangatan seperti
cinta, kasih saying, dan rindu dendam penuturnya. Dengan kata lain pantun mengandung
ide yang kreatif dan kritis, serta padat kandungan maknanya.
Berdasarkan isinya, pantun
dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis. Pembagian pantun sebagai berikut
1. Pantun Adat
2.
Pantun Agama
3. Pantun
Jenaka
Contoh
:
Elok rupanya pohon belimbing
Tumbuh dekat pohon mangga
Elok rupanya berbini sumbing
Biar marah tertawa juga
Tumbuh dekat pohon mangga
Elok rupanya berbini sumbing
Biar marah tertawa juga
4.
Pantun Kepahlawanan
5.
Pantun Nasihat
Contoh
:
Asam kandis asam gelugur
Kedua asam riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
Kedua asam riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
6.
Pantun Percintaan atau pantun muda-mudi
Contoh :
Tanam melati di rama-rama
Ubur-ubur sampingan dua
Sehidup semati kita bersama
Satu kubur kelak berdua
Ubur-ubur sampingan dua
Sehidup semati kita bersama
Satu kubur kelak berdua
7.
Pantun Teka-teki
Contoh
:
Kalau puan, puan cemara
Ambil gelas di dalam peti
Kalau tuan bijak laksana
Binatang apa tanduk di kaki
Ambil gelas di dalam peti
Kalau tuan bijak laksana
Binatang apa tanduk di kaki
2.4 Perbedaan Sastra Lama dan Sastra Modern
Perbedaaan sastra lama dan sastra baru
Sastra lama
|
Sastra baru
|
1. Anonim atau tidak ada nama pengarangnya
|
Pengarang dikenal oleh masyarakat luas
|
2.Istanasentris (terikat pada kehidupan istana
kerajaan)
|
Masyarakat sentris (berkutat pada masalah
kemasyarakatan
|
3.Tema karangan bersifat fantastis,
Karangan berbentuk tradisional |
Tema karangan bersifat rasional
bersifat modern / tidak tradisional |
4.Proses perkembangannya statis
|
Proses perkembangan dinamis
|
5.Bahasa klise
|
Bahasanya tidak klise
|
6. Contohnya: fabel, sage, mantra, gurindam, pantun,
syair, dan lain-lain
|
Contoh sastra baru : novel, biografi, cerpen, drama,
soneta, dan lain sebagainya.
|
Bedasarkan data diatas dapat kita
simpukan bahwa ada beberapa penyebab yang menyebabkan karya sastra lama kurang
diminati dbandng karya sastra baru. Adapun beberapa faktornya adalah sebgai
berkut :
1.
Faktor
bahasa
Sastra lama, tentu saja sebelum
ditransliterasikan, mengandung bahasa daerah atau Melayu yang sulit dipahami.
Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Yus Rusyana sebagai berikut. Terdapat
masalah dalam hal pengenalan dan penghargaan terhadap karya-karya sastra
tersebut. Karya-karya itu kurang diapresiasi oleh masyarakat, bahkan oleh
masyarakat daerahnya. Karya-karya itu menggunakan bahasa lama, yang berasal
dari masa lalu, sehingga menimbulkan kesulitan dalam memahaminya. Lebih-lebih,
karena kebanyakan karya itu dalam bahasa daerah masing-masing dan belum banyak
yang diterjemahkan dan diperkenalkan dengan bahasa Indonesia, maka orang yang
berminat tidak memahami bahasa tersebut, mendapat kesulitan untuk membacanya.
Karena itu, walaupun karya tersebut bermutu, tidak menjadi rujukan masyarakat
sebagai tolok ukur bagi nilai-nilai yang dijunjung (Rusyana,1999:3)
2. Faktor
lain yang menghambat pengenalan sastra lama karena naskah sastra lama sulit
ditemukan. Naskah itu hanya dimiliki oleh tempat-tempat tertentu, misalnya
Museum Naskah Nasional, museum-museum lain yang bersifat pribadi atau museum
yang terdapat di luar negeri. Karya yang sudah ditransliterasikan dalam bentuk
buku pun terlalu padat tulisan dan tidak menarik. Tentu, kalah saing dengan buku-buku
zaman sekarang yang didesain lebih menarik.
3. Karya
Sastra lebih terikat dengan sesuatu yang bersifat keisatanaan, jika
dibandingkan dengan karya sastra baru yang lebih dominan mengulas masalah percintaan.
Oleh sebab itu, karya sastra baru lebih banyak diminati dbanding karya sastra
lama.
Oleh karena itu, adapun upaya untuk meningkatkan
minta remaja terhadap karya sastra lama adalah sebagai berikut :
1.
Upaya pemberdayaan naskah-naskah lama milik
bangsa menjadi bahan bacaan yang mudah dipahami anak-anak perlu dilakukan agar
kecintaan anak-anak terhadap karya sastra lama bertambah. Naskah-naskah yang
tertumpuk di perpustakaan tanpa tersentuh pembaca, sudah saatnya
ditransformasikan menjadi bentuk baru tanpa meninggalkan khasanah nilai-nilai
pada bentuk lamanya. Naskah-naskah itu dapat dijadikan sumber inspirasi
pengembangan cerita modern.
2.
Upaya untuk mengbah tampilan karya sastra
lama menjadi suatu karya yang lebih menarik, misanya membuat kumpulan buku
mengenai karya sastra lama seingga lebih banyak untuk diminati.
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Karya tulis ini berisikan hal-hal yang
menyangkut tentang kesustraan, khususnya kesusutraan lama. Oleh sebeb itu dapat
kita simpulkan kesusastraan lama
memiliki perbedaan dengan kesusastraan
baru yang memiliki bentuk, jenis yang bermacam-macam. Para pujangga atau
sastrawan menggoreskan dan menyumbangkan buah pena mereka terhadap karya
sastra di negara kita, sehingga dapat kita perhatikan banyak karya-karya mereka
di sekitar kita. Berdasarkan karya tulis ini kita mengetahui bahwa karya sastra
lama memiliki unsur-unsur pendukung terciptanya suatu karya sastra dan dapat
kita simpulkan bahwa kesusastraan lama memiliki ciri-ciri tersendiri, memilki unsur-unsur pendukung, bermacam-macma
jenisnya seperti hikayat, pantun, gurindam, syair dan lain-lain.
3.2
SARAN
Berdasarkan
karya tulis ini, penulis menyarankan agar kedepanya karya-karya sastra
lama kembali di perhatikan agar tidak
tersaingi oleh karya sastra baru dan juga di harapkan kepada pembaca untuk
terus mengapresiasikan karya-karya para pujangga yang terdahulu dan menghargai
adanya karya itu dan tidak melupakan kesusutraan lama sebagai karya para
sastrawan yang terdahulu mengembangkan dan melestarikan serta membudayakan
kembali karya sastra lama seperti gurindam, hikayat, pantun dan syair di
tengah-tengah masyarakat.
Daftar Pustaka
Arifin, Zaenal.2003. Dasar-dasar Penulisan Karya Ilmiah. Jakarta: PT Grasindo.
Kusmayadi, Ismail, dkk. 2008. Be Smart Bahasa Indonesia. Bandung:
Grafindo media pratama.
OM, fadillah dan T. Said Hamzah, B.A. 2003. Pelajaran Tulisan arab melayu untuk SLTP
Kelas 2. Jakarta: Bumi Aksara.
Aditya.2010.perbedaan
prosa lama dan prosa baru.(online)(http://4ditya92.wordpress.com/2010/02/27/perbedaan-prosa-lama-dan-prosa-baru/ diakses 11 Desember
2010)
Aditya.2010.Bentuk-bentuk
prosa baru.(online)(http://4ditya92.wordpress.com/2010/02/25/bentuk-bentuk-prosa-baru/ diakes 11 Dsember
2010)
Endonesa.2008.(online)
(http://endonesa.wordpress.com/2008/09/08/karya-sastra/ diakses 11 Desember
2010)
[1] Raja Ali Haji bin Raja Haji
Ahmad dilahirkan di Pulau Penyengat (sekarang masuk wilayah Kepulauan Riau,
Indonesia) pada tahun 1808.
No comments:
Post a Comment