Thursday, March 19, 2020

Merrid Journey : Lamaran

Sebenarnya, lamaran secara basic sudah dilakukan akhir tahun 2018. Hanya saja, mengingat dan menimbang kami orang daerah yang tentunya memiliki adat dan budaya, diputuskan lamaran resmi dilakukan pada 9 Juni 2019. 

Nah, tahukah kalian bahwa sedari awal tahun 2019, Januari hingga Juni calon suami saya tak menetap di Riau. Kebetulan saat itu beliau dan beberapa temannya dapat kepercayaan untuk mengelola cabang toko tempatnya bekerja di pulau Jawa. Drama ini bikin galau juga. Kenapa? Karena saat itu saya baru diterima kontrak kerja dan tak boleh berhenti dalam jangka waktu setahun. Tapi kembali lagi, insyaAllah selalu ada jalan. 

Itulah kalimat yang selalu diucapkan. Bukankah Allah tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya? Maka jalani saja dengan penuh kesabaran dan ikhlas. InsyaAllah. 

Persiapan untuk lamaran tidak terlalu heboh. Sepertinya. Berhubung beliau bukanlah orang daerah Taluk asli. Eh Sentajo deng. Maka, beliau harus "berinduak" alias megang salah satu suku di daerah sini. Nah, syukurlah bisa diwakilkan oleh orang sahaja ^^. Tapi, ada sedikit kendala pas orang tua beliau hendak kesini.

Tetiba sehari menjelang ke Taluk, ayahnya jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Sedihnya. Takuuuut banget ada pertanda jelek gitu. Tapi, kita gak boleh suuzon toh. Serahkan semua ketepatan waktunya kepada-Nya. 

Merid Journey : Kedatangan

Kelanjutannya gimana? 

"Kenapa gak langsung 1 page aja sih?"

Baiklah, begini ya. Saya tipe yang agak malas baca artikel panjang-panjang. Nah, saya menempatkan pembaca blog ini (asumsi) kurang lebih seperti saya. Makanya, saya bikin long story always used kind of part. 

~~~
Oktober 2018, tetiba beliau chat bahwa beliau mau datang ke Taluk Kuantan jumpa orang tua. Sungguh suatu kejutan dikala saya lagi stres dengan tesis. Setelah beberapa kesalahpahaman dan sedikit keegoisan akhirnya diputuskan akhir tahun beliau akan datang. Intinya mah tesis musti kelar dulu, baru jumpa-jumpaan ama orang tua. Biar agar plong gitu ni otak. Hehe

Btw, awet ya dari tahun 2015 sampai 2018 masih bertahan ama 1 wanita. Asieeee...

Nah, kadang juga bingung dan terharu aja ama perasaan beliau yang sungguh tulus. Uhuuk. 

Next story saya ceritakan apa yang melandasinya. 

Finally, beliau langsung ajak orang tuanya jumpa emak dan aba di Taluk Kuantan. Modal percaya diri dan mental baja jika nantinya diterima atau malah ditolak. Semua keputusan siap diterimanya. Katanya sih gitu hhehe 

Jawabannya "Diterima dung"

Alhamdulillah. Penutup tahun 2018 yang indah. MasyaAllah tabarakallah. 

"Lah, diakan baru kali pertama jumpa orang tua, kok emak aba mu langsung yakin?"

Nah pemirsa. Saat KKN dulu beliau pernah 2x ke rumah untuk melamar eh salah. Maksudnya minjam peralatan olahraga untuk kebutuhan kegiatan KKN. Nah, dari situ deh sedikit banyaknya aba dan emak melihat dan menilainya. Begituu....

Intinya, perjalanan ke tahap ini yang begitu mudah tak lepas karena Allah. Semua Allah mudahkan. Alhamdulilla. Percayalah, niat baik jika dilaksanakan dengan baik, insyaAllah kemudahan ada di depan kita. Trust it.


Merid journey : Perkenalan

Hallo. Setelah sekian lama. Finally muncul kembali. Well, pembuka ditahun 2020, letme tell about my journey wedding. Hihi sebenarnya tidak ada spesial-spesialnya. Tapi agar bisa dikenang suatu hari nanti, akan saya ceritakan sedikit gimana mulanya. 

Perkenalan ~~
Awal saya jumpa dan kenalan sama beliau saat masa Kuliah Kerja Nyata yang diadakan kampus. Kebetulan saat itu beliau adalah kordes alias koordinator desa. So, apakah ada yang spesial saat itu? Absolutely nope. Yang paling berkesan tentang beliau hanyalah kebaikan, kesabaran dan kealimannya. Acieee...tapi percayalah, saat itu tak pernah menyangka bahwa beliau akan datang kembali untuk suatu tujuan murni. Huhu terharu.

Oh ya lupa. KKN tersebut diadakan pada bulan Agustus-September 2015. Sudah 4 tahun berlalu. 

Nah, selepas KKN nothing special sama sekali. Mungkin hanya sebatas tanya kabar sahaja. Just it. Tiada harap sama sekali dia datang untuk "menjemput". Sihiiy. Hal ini karena saya sadar jika kami saat itu masih bocah 20 tahun yang pemikirannya masih labil. 

Tahun 2016 fokus untuk lanjut kuliah. Jadi, belum ada memikirkan hal lain selain cepat kelarkan studi. Nah beliau bagaimana? Sepertinya fokus dengan studi S1 dan komunitas di kampus. Kenapa saya tahu? Kebetulan kami berteman difacebook, jadi sedikit banyakny agak tahu. Hihi *ketauan stalking doi.

Nah, segitu dulu deh...

Wednesday, October 9, 2019

Akhirnya Wisuda

Semua kisah yang Allah ciptakan selalu indah. InsyaAllah. Walau, perjalanan menuji kesana sungguh (kadang) musti menempuh jurang kekecewaan, kesedihan dan air mata. Namun, tak jarang jua kisah bahagia Dia titipkan. Toh hidup tak melulu perkara yang sedih sahaja. 

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, baru kali ini merasakan betapa beratnya jadi mahasiswa. Beberapa drama musti dilewati duli sebelum sah menggunakan toga. Namun, lagi-lagi drama itu berakhir indah saat perjalanan proses bimbingan (kali kedua dengan dosen pembimbing yang berbeda) dijalani. Layaknya macet-macetan dijalan, eh pas dah sampai jalan tol, waaaw alhamdulillh bebas hambatan. Walhamdulillah :)

Nah, drama paling miris saat pengajuan wisuda ada juga nih. Apa ya?

......

Salah satu berkas yang harus diurus untuk sebagai syarat wisuda adalah tesis yang telah dijilid dan ditandatangani ketua program pascasarjana. Nah, kesialan pertama terletak pada salahnya jilidnya yang dicetak pihak percetakan. Apes banget musti ganti lagi :" oh money ku.

Kesialan kedua. Terjadinya peralihan ketua program pascasarjana yang lama ke yang baru. Otomatis semua kebijakan berubah. Termasuk prosedur penyusunan tesis. Tesis saya pun sebenarnya sudah masuk periode yang baru jika disesuaikan dengan SK jadwal ujian tesis. Jadi bagaimana? Bersiteganglah dengan pihak pascasarjana bahwa pada dasarnya kami mahasiswa lama tidak mengetahui perubahan kebijakan tersebut. Padahal, tesis sudah dicetak. Mustahil dirombak lagi semua penyusunan/isinya. 

Kesialan ketiga. Perkara di atas, atas bantuan Allah SWT semua terlewati. Akhirnya tesis sudah memasuki ruangan pak ketua pascasarjana untuk selanjutnya ditandatangani. Apes lagi. Entah bapak itu sibuk atau bagaimana, sudah lebih dari 3 minggu, tesis masih juga belum tertandatangani. Padahal (kabarnya) waktu wisuda makin dekat. 

Namun, (kembali) Allah Maha Baik. Walau seribet untuk proses mendaftar wisuda. Alhamdulillah waktu/durasi pendaftaran diperpanjang. Alhasil kami tetap bisa mendaftar tepat waktu.

Finally, 24 Juli 2019. Nurrahma Dewi kembali wisuda untuk kedua kalinya. Nah, wisuda ini ada seorang laki-laki yang ikut serta. Tenang, dia sudah dikenalkan secara resmi ke keluarga kok. Sayangnya, saat itu kami belum halal :').

Monday, October 7, 2019

Welcome Back

Hi.. Setelah 6 bulan vakum. Finally kembali lagi. Kalau dipikir-pikir, ngapain aja ya selama 6 bulan terakhir?

Well, saya akan menceritakan beberapa peristiwa yang telah berlalu. Nah, ada beberapa poin. Kira-kira apa aja? Tunggu sahaja postingan selanjutnya.

See you :*

Wednesday, March 20, 2019

Berbagi Kebahagiaan Ala Candra

Tentang rezeki, semua sudah diatur Yang Maha Kuasa. Bukankah semua yang kita peroleh pada dasarnya akan kembali kepada-Nya? Bukankah apa yang kita peroleh sekiranya jua dari Dia yang Maha Pemberi? Kenapa harus ragu ketika menitipkan sebagian yang kita miliki untuk memberikan secercah kebahagiaan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Kendati demikian, berbagi pun tidak harus melalui benda, bahkan sekedar sapaan dan senyum sudah termasuk berbagi kepada sesama.
Janji-Nya selalu pasti atas hamba-Nya yang tulus untuk berbagi dengan sesama makhluk-Nya. Halau kegundahan dan keresehan akan pemikiran bahwa semua yang diberi akan mengurangi yang telah dimilki. Sungguh pemikiran yang salah. Percaya dan yakini bahwa Dia akan selalu mencukupkan dan bahkan akan Dia tambahkan atas apa-apa yang telah kita slaurkan. Kenapa takut untuk berbagi?
Aku pernah menyaksikan ketulusan saudaraku untuk berbagi kebahagiaan dengan saudaranya yang lain. Kejadian ini sekitar tahun 2017, sebut saja namanya Candra. Dia sosok yang cukup dekat denganku. Maklum, kami dulunya satu almamater saat kuliah. Hanya saja, dia lebih memilih untuk menjalankan bisnis, sementara diriku lebih memfokuskan diri untuk lanjut sekolah. Setelah sekian lama tidak berkomunikasi, tetiba dia mengirimiku pesan terkait rencana dia untuk melakukan kegiatan sosial bersamaku dan beberapa rekanku. Maka pertemuan pun kami lakukan.
“Dekat rumahku ada panti asuhan. Aku sudah berkunjung kesana. Rupanya disana tidak ada kakak asuh yang jaga panti tersebut. Aku pribadi sudah jumpa pemilik panti dan pengurus panti tersebut. Kami bincang-bincang terkait kondisi panti dan lain-lain. Trus, aku berniat untuk bantu adek-adek disana belajar dan lain-lain. Nah, kalau sendiri, aku tidak sanggup. Makanya, aku butuh bantuan teman-teman untuk membantu proses pendidikan dan belajar adik-adik disana. Tapi, jujur saja, kegiatan ini hanya amal sahaja. Teman-teman tidak akan mendapatkan pembayaran apa-apa atas apa yang teman-teman lakukan. Semua murni dari ketulusan teman-teman. Aku pun melakukan ini pure untuk membantu adik-adik disana.”
Aku kagum akan niatnya yang begitu luar biasa. Perlu diketahui bahwa dia merupakan laki-laki yang berbeda keyakinan dengan kami. Namun, ketulusan hatinya sungguh menggerakkan hatiku untuk ikut andil dalam kegiatan tersebut. Maka, kami pun mulai menjalankan rencana tersebut dimulai dengan perkenalan bersama pengurus panti serta adik-adik panti tersebut. Total adik-adik panti hanya sebanyak 8 orang. Rerata kelas II sampai V SD. Oleh karena itu, awalnya kami pikir cukup mudah untuk mendidik dan membimbing mereka.
Pemikiran tersebut akhirnya terbantahkan. Mereka sungguh riweh dan kami kewalahan mendidik mereka. Kami memutuskan untuk memulai dengan mengajarkan terkait tata krama kepada mereka. Sembari belajar, selalu tanamkan ilmu-ilmu terkait tata krama kepada mereka. Maklum saja, komunikasi mereka masih sangat kacau. Sehingga kerapkali mereka menyamakan untuk semua usia dalam hal komunikasi. Kami pun hanya bisa geleng-geleng atas kelakuan mereka.
Pembelajaran berikutnya terkait kewajiban sebagai seorang wanita karena kebetulan semua adik-adik di panti perempuan. Candra sangat setuju saat salah seorang rekan menyarankan agar adik-adik menjaga auratnya saat bertemu lawan jenis. Sejak hari itu mereka pun diajarkan untuk membiasakan diri menjaga auratnya. Apakah semua berjalan lancar? Tentu tidak. Meski demikian, semua butuh proses. Kami pun menikmati semua itu sembari berbagi kebahagiaan bersama mereka.
Aku sungguh salut dengan kepedulian Candra akan masa depan mereka. Pernah dia menghampiriku yang kala itu sedang mengajari adik-adik mengerjakan pekerjaan rumah mereka.
“Wi, menurutku adik-adik ini juga harus diajari untuk ibadah seperti yang kalian lakukan. Jangan asal-asalan kalau soal ibadah. Nanti, kalau kalian butuh apa-apa, aku meyanggupi untuk memenuhinya.”
Semenjak itu, aku dan rekanku membiasakan adik-adik untuk shalat berjamaah, tak lupa membaca Al-Qur’an selepas shalat. Memang, mereka sudah dianjurkan untuk shalat jamaah sebelum kami datang, namun masih tetap perlu pembiasaan. Apalagi perkara soal di awal waktu. Walau kadang ada dari mereka yang ogah-ogahan untuk melakukan semua itu. Namun, kesabaran kami selalu ditempa untuk mengajak mereka melakukannya. Lagi. Semua butuh proses agar mereka terbiasa.
Rupanya kepedulian Candra terhadap pendidikan mereka tidak setengah-setengah. Dia bahkan rela membuatkan mereka sebuah buku sejenis laporan harian untuk meninjau progres pembelajaran mereka. Selanjutnya dia menemui guru wali kelas mereka untuk terus memantau serta mengisi buku laporan tersebut sebagai bahan evaluasi. Setiap ujian, Candra akan melakukan pemeriksaan akan hasil akhir mereka. Gunanya, untuk melihat kelebihan dan kelemahan mereka dalam segi pembelajaran.
Candra mungkin seperti bapak bagi mereka. Walau seringkali Candra memarahi dan menasehati mereka, namun kedatangan Candra selalu dinanti oleh mereka. Mungkin. Mungkin ada sebagian dari mereka yang tidak menyukai Candra karena sikap tegasnya si Candra. Aku pun sering mengingatkan agar Candra tidak terlalu keras kepada mereka karena mungkin terkadang mereka yang tidak akan paham maksud perlakuan Candra tersebut. Dia menerima saranku. Jujur, kadang aku takut jika pada akhirnya mereka malah takut akan perlakuan Candra. Satu hal, meski sedemikian pedulinya Candra kepada mereka, Candra tidak pernah memanjakan mereka.
“Hidup di masa depan itu keras. Kalau saat ini mereka selalu mendapatkan apa yang didapatkan, maka mereka pasti akan manja dan tergantung terus kepada orang lain. Mereka tidak akan mau berusaha untuk meraih apa yang menjadi hak mereka. Aku nggak mau mereka loyo menjalani kehidupan ini. Kalau masanya senang-senang atau liburan, ayuk aku bawa mereka main. Kalau masanya serius menghadapinya ujian, ya musti belajar.”
Benar adanya. Candra memberikan reward kepada mereka yang berhak mendapatkannya. Walau mungkin terkesan tidak adil. Tapi Candra selalu berharap itu menjadi motivasi mereka untuk lebih giat dalam belajar. Menurutku cara Candra cukup unik saat memberikan reward. Pernah suatu ketika dia membawa serta mereka semua ke Gramedia. Adik-adik tidak tahu maksud Candra membawa mereka kesana, namun mereka tampak senang pergi “main”. Yup, bagi mereka keluar panti berarti main atau jalan-jalan. Nah, rupanya saat disana Candra mengizinkan adik-adik yang meraih nilai bagus saat ujian untuk mengambil buku dan peralatan tulis yang disukai. Sementara adik-adik lain hanya memperoleh buku saja.
Bagiku, apa yang dilakukan Candra sungguh menakjubkan. Dia tidak pernah memikirkan berapa banyak pengeluarannya. Dia tidak memikirkan hal tersebut. Ketulusannya untuk membantu adik-adik tersebut sungguh menginspirasi. Baginya, menebar kebaikan serta melihat senyum kebahagiaan dari adik-adik sudah mewakili apa yang diharapkannya. Mungkin, kisah Candra tidak sebesar kisah saudara lain yang perjuangannya lebih besar. Namun, setidaknya hal ini menjadikanku untuk lebih peka akan sekeliling bahwa masih banyak orang yang membutuhkan bantuan pemikiran atau sekedar waktu berbagi cerita.
Namun, jika sekiranya kita tidak memiliki waktu luang yang cukup untuk bercengkerama atau berbagi dengan saudara-saudara kita yang lain, maka bisa kita salurkan dengan berbagai lembaga yang nantinya mampu mewakili niat baik kita. Saat ini, sudah begitu banyak lembaga sosial yang tujuannya berbagi kebaikan dengan sesama. Salah satunya adalah dompet dhuafa. Bagi teman-teman yang berminat bisa mengunjungi link donasi.dompetdhuafa.org atau www.dompetdhuafa.org.

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan Dompet Dhuafa."



Sunday, March 17, 2019

Pemberontakan Batin : Soal Rasa


Kebodohanku adalah mengagumi seseorang yang belum pantas kukagumi. Berlebihan mengaguminya hingga tanpa sadar rasa lain pun tumbuh. Perlahan tapi pasti telah merasuki relung hati terdalam. Usahaku untuk menepisnya pun sia-sia. Karena rasa itu menghujam terlalu dalam hingga berat untuk melepasnya. Aku tak ingin pasrah begitu sahaja, namun lagi-lagi semua berontak. Dilema menghantuiku.

“Dia ini baik, aku sudah tahu bagaimana dia bersikap, bagaimana dia memperlakukanku. Aku tahu semua itu. Ditambah lagi, dia sudah mengaji.”
“Namun, kau tahu bukan jika itu salah?”
“Sadarlah diri ini. Aku telah belajar akan semua itu. Namun harus bagaimana kubertindak?”
“Lepaskan atau kekecewaan yang akan diperoleh?”
“Mudah mengatakannya. Tapi begitu sulit untuk terlepas dari kungkungan perasaan ini. Butuh waktu untuk menetralisir perasaanku. Sulit rasanya jika memulai dengan yang baru jika hatiku telah terpantri kepadanya”
“Minta dia untuk menghalalkanmu.”
“Sudah kulakukan. Namun, ada yang belum bisa kami lewati.”

Pernah merasakan pemberotakan batin seperti itu?
Aku pernah.
Dulu, aku mengenal seseorang yang tampak baik. Bahkan dia memang berniat serius. Tentu aku menanggapi dengan baik iktikad baiknya. Namun, cara yang kami lakukan salah. Walau raga tiada pernah bersua, komunikasi via dunia maya tetap terjalin bahkan tak ubahnya dengan orang yang layaknya sedang kasmaran. Tenang, niat baik dia tetap ada. Hanya saja, Allah tidak ridho dengan cara ini. Hingga perjalanan menuju kesana sungguh sulit hingga akhirnya aku menerima kenyataan "Maaf, aku mengundurkan diri atas apa yang pernah kukatakan sebelumnya."

Dari situ aku belajar bahwa tidaklah boleh kita mengagumi seseorang secara berlebihan. Karena setan begitu bahagia dan senang saat hati kita terbuai akan kebahagiaan semu tersebut. Tanpa kita sadari, malaikat geleng-geleng kepala akan perlakuan kita yang demikian.
Apa guna kita mengaji jika iman kita tak bertambah?
Jangan siakan perjuangan langkah kaki kita untuk meraih ridho-Nya.
Jangan siakan niat kita untuk tetap istiqomah.
Jangan siakan semua ilmu yang telah diserap.

Tahukah? Perasaan itu semua merupakan ujian dari-Nya. Akankah berpaling hingga menjadi munafik atau mampu menghalau dan menjaganya.

Pilihan ada pada dirimu.
Mari, kita berjuang.